MINHAJUL ABIDIN PDF

Pada abad ke empat, ada tiga ilmu yang sangat berkembang dalam islam yakni ilmu tasawuf, ilmu kalam dan ilmu fiqih. Fisafat Yunani dan lain-lain telah masuk ke dalam masyarakat Islam saat itu. Sebagaimana telah dipergunakan menjadi bahan perbandingan. Soal-soal ganjil pun timbulah, karena kesungguhan mencari, kerap kali terjadi perselisihan dan pertikaian. Ketika itu berkembang pula mazhab Ismailiyah, yaitu suatau mazhab atau ideologi hendak mengembalikan kekuasaaan keturunan-keturunan Ali bin Abi Thalib ke atas singgasana kerajaan.

Author:Vogore Samule
Country:Puerto Rico
Language:English (Spanish)
Genre:Medical
Published (Last):25 January 2009
Pages:257
PDF File Size:9.12 Mb
ePub File Size:20.1 Mb
ISBN:849-3-45668-221-4
Downloads:29932
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Taugul



Yang penuh Hikmah, Pemurah, Mulia, Penyayang , Tuhan yang menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, d an yang menciptakan langit dengan Kudrat-Nya, Mengatur segala urusan dengan Hikmat-Nya, dan tiada Ia menciptakan jin dan manusia melainkan untuk ibadah kepada-Nya.

Jadi, jalan kepada-Nya jelas bagi siapa yang bermaksud, begitu pula bukti yang menunjuk kepada-Nya bagi siapa yang berfikir, namun Allah jua menyesatkan siapa yang ditakdirkan-Nya sesat, dan Ia Pula memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, karena Ia lebih tahu akan orang —orang yang beroleh hidayah.

Semoga sholawat serta salam melimpah atas penghulu segala Rosul beserta keluarganya yang baik-baik lagi suci, semoga Alah SWT. Menyelamatkan dan memuliakan mereka hingga hari pembalasan. Ketahuilah, saudara-saudaraku semoga Allah membahagiakan anda dan aku dengan keridoan-Nya, bahwa ibadah itu adalah buah dari ilmu, faedah dari umur, hasil usaha dari hamba-hamba Allah yang kuat-kuat, berang berharga dari para aulia, jalan yang ditempuh oelh mereka yang bertaqwa, bagian untuk mereka yang mulia.

Tujuan dari orang-orang yang berhimmah, syiar dari goloongan terhormat, pekerjaan dari orang-orang yang berani berkata jujur, pilihan dari mereka yang waspada, jalan menuju surga. Allah SWT. Ternyata suatu jalan yang amat sukar, banyak tanjakan-tanjakan pendakian-pendakiannya , sangat payah, dan jauh perjalanannya, besar bahayanya, tidak sedikit pula halangan dan rintangannya, samar dimana tempat celaka dan akan binasa, banyak lawan dan penyamun, sedikit teman dan penolongnya.

Memang seharusnya begitu, sebab ibadah itu ialah jalan ke surga, jadi semua ini sesuai dengan sabda Rosulullah SAW. Namun waktu telah berlalu, tak dapat dipanggil kembali, pendeknya siapa yang taat, dialah yang beruntung, bahagia selama-lamanya. Tetapi siapa yang tidak mau taat, maka rugi dan celakalah dia.

Kalau begitu soalnya sulit dan bahayanya besar, karena itulah maka jarang sekali orang yang memilih jalan ini, diantara yang telah memillihnyapun jarang sekali yang benar-benar menempuhnya. Diantara yang menempuhnya juga jarang pula yang sampai kepada tujuannya dan berhasil mencapai apa yang dikejarnya. Mereka yang berhasil itulah orang-orang mulia pilihan Allah SWT. Diberinya taufik dan pemeliharaan terhadap mereka, dan disampaika-Nya dengan penuh karunia kepada keridoan-Nya.

Kita bermohon semoga Allah SWT. Memasukan kita kedalam golongan yang beruntung dengan memperoleh rahmat-Nya. Itulah sebabnya maka kami berusaha menyusun beberapa kitab tentang jalan kearah itu dan cara menempuhnya, seperti antara lain kitab Ihya, Al Qurbah dsb, akan tetapi , kitab-kitab tersebut banyak mengandung soal-soal yang halus, mendalam sekali, sukar untuk dimengerti oleh kebanyakan orang, sehingga akhirnya mereka benci dan mencela, mengecam apa saja yang mereka belum paham dalam-kitab-kitab tersebut.

Hal ini memang telah dipesankan oleh Abu Hasan kepada Husain dan Hasan. Karena terkadang ada johar ilmu yang kalau dibuka tabirnya pasti ada orang yang akan menuduh aku musyrik, dan menghalalkan jiwaku untuk dibunuh, karena dikiranya perbuatan keji itu suatu amal yang baik.

Karena itu, lalu aku bermohon kepada Allah Swt. Minta diberi-Nya taufik agat dapat menyusun sebuah kitab yang cocok bagi mereka. Adapun hamba Allah itu bila mulai bangun dan ingat untuk ibadah, ia tajarrud dengan membulatkan hati menempuh jalan ibadah, mula-mula ialah karena ada suatu lintasan dihatinya yang suci.

Itu adalah pemberian dari Allah Swt. Apabila seseorang sudah berkata begitu dihatinya dia itu faham bahwa ini mungkin, tidak mustahil, ia dengar berita-berita dari Rosulullah S. Ini namanya lintasan hati yang membawanya takut tetapi engkau sudah mengerti sekarang engkau terikat. Untuk memutuskan diri daripadanya, tidak ada alasan, apalagi unutk berayal-ayalan, sehingga mendorong dia dengan keras untuk berfikir tetapi berusaha dan mencari jalan keselamatan, bagaimana?

Dia ketakutan, bagaimana supaya merasa aman dari apa yang sudah masuk dihatinya atau yang sudah didengar oleh telinganya sendiri? Tidak ada jalan lain lagi dihadapannya selain dengan otaknya yang sehat, memikirkan dan mencari bukti.

Mula-mula terhadap adanya buatan yang menunjukan adanya si pembuat, adanya alam semesta, ini juga buatan, yang menunjukan adanya si pembuat, yaitu Allah SWT. Agar ada baginya ilmu yakin dan tidak syak wasangka lagi akan hal-hal yang ghaib.

Benar, Allah itu tidak dapat dilihat, tetapi bukti akan perbuatannya, yaitu alam semesta yang indah dan unik, yang menandakan adanya Allah.

Disini dia akan yakin bahwa memeng dia mempunyai Tuhan yang memerintah dan melarangnya. Inilah tanjakan yang pertama, pendakian yang pertama, yang dihadapinya dalam perjalanan ibadah.

Agar dalam urusan ini ia tahu betul, apa yang dilakukannya, kemudian dia menempuh tanjakan ini, tidak dapat tiada, harus menempuhnya, kalau tidak, dia akan celaka, mau tidak mau harus menempuh tanjakan ini, artinya ia harus belajar mengaji , supaya bisa beribadah, menempuh jalan ini dengan sebaik-baiknya, memikirkan buktinya, dan merenungkan sepenuhnya. Dengan belajar mengaji , bertanya kepada guru para ulama tentang akhirat, kepada petunjuk-petunjuk jalan, dian-dian lampu-lampu umat.

Pemimpin para imam, dan mintalah faedah dan doa dari beliau-beliau itu, mudah-mudahan Allah SWT. Memberi taufik-Nya. Setelah dia cukup mengaji, berhasillah baginya ilmu yakin. Mengetahui tentang hal-hal yang ghoib, maka tahu adanya Allah, adanya Rosulullah, adanya sorga, adanya neraka, adanya hisab, adanya nusyur, adanya wukuf fil mahsyar, dll.

Dia yang menciptakan dirinya, dan sekarang ia tahu bahwa tuhan itu menyuruh bersyukur, menyuruh khidmat dan taat lahir batin. Dan Tuhan menyuruh dia supaya berhati-hati, jangan sampai kufur, jangan melakukan bermacam-macam maksiat, dan Dia SWT. Sudah menetapkan akan adanya ganjaran yang kekal kalau ia taat kepada-Nya, dan akan ada pula hkukuman yang kekal kalau ia durhaka dan berpaling dari pada-Nya.

Dan pada saat itu ia didorong oleh pengetahuan ini dan oleh keyakinannya akan yang ghaib itu, didorong untuk menyingsingkan lengan baju untuk berhidmat, melakukan ibadah dengan sepenuh hatinya. Yaitu beribadah memperhambakan diri kepada yang memberi nikmat ini, yaitu Allah SWT. Yang ia cari-cari selama ini, sekarang sudah ketemu. Tetapi dia belum tahu bagai mana caranya beribadah?

Kini dia telah mengenal Tuhan, kemudian bagaimanakah cara beribadahnya? Apa yang diperlukan untuk berhidmat kepada-Nya dengan lahir batin itu? Sesudah tamat ilmu tauhid, maka ia belajar ilmu Fikih, bagaimana berwudhu, shalat, dsb. Yaitu fardu beserta dengansyarat lahir bathinnya. Sesudah ia mendapatkan seperlunya ilmu tentang yang yang fardu, tentang ibadah, maka sekarang ia bangun untuk benar-benar mulai beribadah, dan bekerja melakukan ibadah.

Akan tetapi, kemudian ia berfikir dan melihat, dan tiba-tiba ia insyaf bahwa ia banyak dosa, banyak kesalahan dan maksiat.

Bagaimana aku beribadah sambil durhaka? Betapa berat aku ini berlumur dengan kedurhakaan. Dengan demikian aku harus bertaubat dulu, membersihkan diri dari maksiat, dan menyesal agar diampuni dosa-dosaku oleh Allah dan membebaskanku dari belenggu dosa-dosa itu , supaya Dia SWT.

Membersihkan diriku dari kotoran-kotoran dosa, setelah itu baru aku baik untuk berhidmat dan dekat dihamparan Allah. Disini ia berhadapan dengan tanjakan TAUBAT susah juga unuk menempuhnya, tidak dapat tiada ia harus menempuh tanjakan taubat ini, agar ia sampai kepada yang dimaksud daripada ibadah itu. Diamulai taubat, melakukan taubat sebagai mana mestinya dan menurut syarat-syarat sampai akhirnya ia dapat menempuhnya.

Setelah dia berhasil taubat secara benar, dan selesai pada tanjakan ini, maka ia merasa rindu untuk melakukan ibadah, untuk memulai ibadah.

Menghalanginya dari apa yang dimaksudnya, yaitu ibadah. Ia melihat, merenungkan, macam apa halangan-halangan itu? Akhirnya dapat disimpulkan halangan-halangan itu ada empat macam: 1. Dunia 3. Memelihara diri supaya tidak bisa disesatkan oleh mahluk sebab kebanyakan mahluk suka menyesatkan 3.

Memaklumkan perang terhadap syaitan sebab kalau tidak diperangi, syaitan akan terus saja menghalangi 4. Menaklukan hawa nafsu kita sendiri. Menaklukan nafsu ini yang paling susah, sebab tidak bisa dikikis habis sama sekali, sampai terpisah sama sekali dari nafsu, hal ini tidak bisa. Sebab nafsu itu ada gunanya, hanya jangan sampai ia mengalahkan kita tidak bisa seorang itu menundukan nafsunya sama sekali, malah ini berbahaya, kita jangan menekan nafsu itu sampai mati, ini yang paling susah, mati jangan, sampai menguasaipun jangan.

Tidak bisa dikikis sama sekali tidak bisa, kalau orang mengikis habis nafsunya sama sekali, celakalah dia, jadi dia bukan manusia. Kita juga harus mampu mengalahkan syaitan itu, tetapi hawa nafsu atau diri kita tidak harus ditumpas sama sekali Sebab, diri kita adalahh kendaraan kita alat kita , namun tidak akan ada harapan bahwa nafsu kita akan mendorong kita kepada kebaikan, kalau dibiarkan, nafsu akan mendorong, hanya kepada kejahatan saja.

Karena itu untuk menyiasati diri kita sendiri paling susah, jangan diharap bahwa nafsu akan mufakat dengan kita untuk beribadah dan menghadap dengan sebulat hati kita kepada ibadah, sebab nafsu itu memang tabiatnya tidak baik, hanya ingin berbuat apa-apa yang melupakan kita kepada Allah SWT. Menurutkan nafsu semata akan membawa kita kepada apa yang membuat kita lupa kepada Allah SWT, kalau begitu perlu ia hamba Allah mengendalikan nafsunya, degan alat kendali yang namanya TAQWA Supaya tetap nafsu itu hidup baginya, tidak mati, tapi tunduk, yaitu dengan kendali, seperti mengendalikan kuda binal.

Jadi seseorang itu bisa menggunakan nafsunya untuk kebaikan, kemaslahatan dan untuk kebenaran, dikendalikan jangan sampai jatuh ketempat-tempat celaka, tempat-tempat yang merusak.

Kalau begitu ia sekarang mulai menempuh tanjakan ini dengan meminta tolong kepada Allah SWT. Supaya dapat menempuh tanjakan yang terjal ini. Kalau tadi ada penghalang yang tetap. Maka sekarang ia menghadapi rintangan-rintangan yang terkadang datang dan terkadang menghilang, hal ini akan membingungkan hatinya untuk sepenuhnya menuju tujuannya, yaitu beribadah sebagaimana mestinya. Ia merenungkan macam apakah halangan-halangan itu?

Setelah lama merengukan …oh! Rizki Dirinya sendiri, menagih dengan pertanyaan. Bagaimana makananku? Mana untuk anak-anakku? Mana untuk keluargaku? Harus ada apa-apa yang menguatkan diriku!

Aku sudah menjaga diri supaya jangan ditipu oleh mahluk-mahluk sekarang aku harus berhati-hati terhadap mahluk kalau begitu bagaimana tenaga dan bekalku itu? Itu tagihan nafsunya dirinya sendiri. Rintangan yang kedua ialah: macam-macam bahaya yang ia takutkan, ia takut ini dan mengharapkan itu, takut-takut kalau tidak jadi.

Ia ingin anu, anu, anu, takut kalau-kalau tidak ada. Ia takut anu, anu,anu, takut kalau —kalau ada. Ia tidak tahu apa yang baik baginya dalam hal ini, dan apa yang jelek baginya, ia hanya meraba-raba saja, sebab akibat-akibat dari segala sesuatu itu samar sifatnya, dan apa akibat-akibatnya? Hatinya bimbang, mungkin dia jatuh kepada kerusakan datau kepada tempat kecelakaan.

Rintangan yang ketiga adalah: 3. Macam-macam kesusahan musiba-musibah yang datang kepadanya bermacam-macam dari tiap segi tiap sudut. Apalagi sekarang ia sudah berterkad untuk menjadi seorang yang lain dari yang lain, tidak sama dengan mahluk yang lain, mau beribadah, sedang orang lain tidak mau beribadah. Apalagi ia sudah bertekad pula utnuk berperang melawan syaitan dan syaitan juga tidak akan diam, syaitan bersedia untuk melawannya. Dan ia sudah bertekad untuk melawan nafsu, sedangkan nafsu juga sudah siap untuk merobohkannya.

Berapa banyak kepayahan yang dihadapinya. Berapa banyak kebingungan dan ke sedihan yang melintang dijalannya, berapa banyak musibah yang menyambutnya, ini juga harus dipikirkannya.

PRED TOBOM SYLVIA DAY PDF

Download Kitab Minhajul Abidin PDF

Domestic career[ edit ] Nannu caught the attention of the cricket selectors in the early s. In December , he was selected to tour West Bengal. His top score of 60 against the Bangladesh national team went in vain, but his 44 against Hong Kong at Chittagong , helped the Tigers win the match. After that, he enjoyed a successful tour of Kenya with the national team. Playing for Abahani, he was consistently amongst the runs in the domestic cricket in — But when he failed against the touring Lankans in March , and against the Omar Quareshi XI in January 86, many started to doubt his credentials as an international cricketer.

BUDIDAYA KEPITING BAKAU PDF

[PDF] Minhajul Abidin Dan Terjemah

.

AMELIA OTERO SERGIO PITOL PDF

Download Terjemahan Kitab Minhajul Abidin (Wasiat Imam Ghazali)

.

Related Articles