MAJALAH TARBAWI PDF

Kemarahan Allah tergantung kemarahan orang tua" HR. Turmudzi dari Umar bin Khattab Cinta Orangtua pada kita adalah utang yang tak pernah mereka tagih, tapi juga tak pernah bisa kita lunasi" Kisah orang-orang dalam edisi khusus Ramadhan ini, mungkin tidak semuanya terangkum dalam pilihan kata yang syahdu. Tidak semua mereka bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Merasa dan bicara memang dua hal yang berbeda.

Author:Arashirr Nikorisar
Country:Cyprus
Language:English (Spanish)
Genre:Sex
Published (Last):11 November 2007
Pages:17
PDF File Size:11.43 Mb
ePub File Size:1.67 Mb
ISBN:877-7-35056-504-2
Downloads:10258
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Dushakar



Polarisasi politik yang tajam pasca-Pemilu Presiden tahun , terus terjadi sampai hari ini. Kubu-kubu yang berseberangan terus-menerus melancarkan serangan. Teks bertendensi kebencian diproduksi, disebarkan, dan membikin kegaduhan di tengah masyarakat. Kecepatan adalah watak saluran daring. Celah ini bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, baik yang menebar informasi destruktif, maupun sebaiknya.

Mundur sedikit ke belakang, ketika akses internet masih terbatas, penyebaran informasi yang berbentuk teks dikuasai media cetak. Di medium cetak pun kabar baik dan busuk lumrah terjadi, hanya saja kecepatan penyebarannya jauh tertinggal jika dibandingkan dengan internet. Dalam konteks perang kebencian belakangan ini, media cetak lebih lambat penyebarannya. Bacaan yang diproduksi oleh Muslim dan ditujukan untuk penganut agama mayoritas di negeri ini—sebagai mangsa terbesar dari warta busuk menor provokasi, pernah diwarnai oleh berbagai tabloid dan majalah Islam multi corak dan tendensi.

Ada yang menyajikan sastra, liputan konflik, kajian wacana politik, isu-isu keluarga, menyemai ruhani, dll. Mayoritas media-media tersebut telah rontok. Baca juga: Kejayaan dan Keruntuhan Majalah Newsweek Majalah yang lahir pada dan berhenti terbit tahun tersebut—jika melihat isi warta hoaks yang membanjir belakangan ini --, adalah contoh media yang mencoba meredam ketergesa-gesan umat dalam menyikapi berbagai hal yang beredar dalam keseharian.

Tarbawi menawarkan jeda, spasi perenungan, dan menggeledah ruhani. Sedari judul, Tarbawi telah menawarkan perspektif lain. Dirosat atau kajian utama di nomor ini—dengan menyertakan referensi dari khazanah Islam, membahas hal-ihwal kata yang menjadi ujung tombak dalam keseharian.

Bagi Tarbawi, persoalan memilih kata adalah hal penting yang harus disampaikan kepada masyarakat. Alih-alih mengupas rupa-rupa peristiwa aktual dan segera memberitakannya, Tarbawi justru terlebih dulu membekali pembacanya dengan perangkat kesadaran tentang kata.

Bahkan sebagai seorang Muslim, setiap hari ibadah kita berkaitan erat dengan pengucapan kata. Tarbawi menambahkan bahwa masing-masing kita mempunyai keleluasaan memilih kata, baik dalam berbicara maupun dalam menulis.

Pilihan tersebut bukan sekadar sesuatu yang biasa, sebab ia membawa pesan-pesan di baliknya. Kebiasaan kita memilih kata adalah hal-hal yang melatarinya. Mengutip dari seorang bijak, Tarbawi menulis bahwa seseorang diukur dengan dua anggota tubuhnya yang kecil, yaitu hati dan lidahnya.

Dalam edisi ini, Tarbawi mengkaji soal sikap personal dan masyarakat yang kerap membenci atau tidak menyukai sesuatu dan seseorang secara berlebihan.

Padahal, menurut majalah ini, selalu ada perubahan dalam diri kita seiring perubahan-perubahan yang dibawa oleh waktu yang terus berjalan.

Bukan hanya fisik dan usia, tambah Tarbawi, tapi kadang selera, pandangan, pikiran dan perasaan kita, juga ikut berubah. Suasana jiwa, yang diwakili oleh benci dan cinta kita pada seseorang atau sesuatu, pun kadang bergeser.

Sedangkan cinta yang berlebihan akan menimbulkan kekecewaan. Dari awal terbit sampai meranggas dan mati di edisi , majalah ini selalu menakar setiap judul dan isi dengan pendekatan yang mencoba menggedor-gedor kesadaran. Media sosial yang mereka miliki untuk memublikasikan majalah hanya Facebook dan Twitter , sementara laman web-nya sudah lama tidak bisa dibuka.

Sekarang hanya menyisakan beberapa arsip di laman blogspot yang tidak diketahui siapa pembuatnya. Pendiri majalah ini adalah Ahmad Zairofi, M. Afwan maaf ya belum bisa jawab. Setidaknya, lewat iklan dan merchandiser-nya, majalah ini hampir selalu menyertakan slogan jurnalisme nurani. Fitrah bermakna universal karena pada dasarnya manusia memiliki fitrah kecenderungan yang sama. Pada simpul fitrah inilah, Tarbawi bermaksud membangun kebersamaan umat lintas ras dan budaya.

Menurut Edi, dalam menyeleksi dan memilih isu, Tarbawi tentu mengikuti kaidah nilai jurnalistik, yakni menakar sisi kebaruan informasi novelty , kedekatan dengan pembaca proximity , pengaruhnya pada pembaca consequence , konflik, dan sentuhan nilai kemanusiaan human interest. Edi menambahkan, bahwa pertimbangan nilai berita itu lebih pada sisi pelatuk berita news peg untuk melakukan kontemplasi. Sebelum bergabung dengan Tarbawi, Edi Santoso menelaah bahwa menurutnya majalah tersebut hampir selalu memberikan penekanan pada solusi dari setiap peristiwa yang diangkat.

Hal ini dibenarkan oleh Ahmad Zairofi yang mengakui bahwa memang Tarbawi lebih fokus pada sisi personal. Ia menambahkan, langkah tersebut adalah pendekatan kultural dengan mengajak pembaca untuk berkontemplasi, merenung, dan membangkitkan kesadaran. Ahmad Zairofi juga menegaskan bahwa faktor lain di luar manusia, misalnya sistem, memang memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia, namun semuanya berawal dari manusia.

Daya tahan personal merupakan daya tahan utama sebelum daya tahan kolektif. Sejak Tarbawi berhenti terbit, ketiga pendirinya tercatat aktif di partai politik, yaitu PKS. Meski Tarbawi memang lahir dari rahim gerakan Tarbiyah, dan para pendirinya kemudian bertungkus lumus di partai tersebut, akan tetapi para pembacanya merasa menyayangkan ketika akhirnya majalah ini berhenti terbit. Respons masyarakat terhadap Tarbawi sedari awal memang cukup baik.

Mula-mula terbit sekitar eksemplar. Setahun kemudian sudah menerbitkan lebih dari Di beberapa laman pribadi pembaca Tarbawi, seperti yang ditulis oleh Triyanto Mekel , ia menyayangkan majalah ini berhenti terbit. Menurutnya, umat masih membutuhkan pemaknaan hidup yang dihadirkan oleh majalah tersebut. Menurutnya, situasi politik yang banyak menyita perdebatan adalah momentum yang tepat untuk membaca kembali materi di Tarbawi. Sejauh ini, belum ditemukan arsip bahwa Tarbawi berhenti terbit disertai pamit kepada para pembacanya.

Majalah itu hilang begitu saja. Pelanggan tiba-tiba tak menemukan lagi edisi terbaru. Sejak itu, sebuah media cetak Islam telah lampus. Internet berkembang, yang lain ikut bertumbangan. Kini, yang ada hanya teks-teks kebencian berkedok islam yang berseliweran menghiasi semesta informasi para pembaca.

ARRI HMI 18000 PDF

Majalah Tarbawi, Sebelum Hoaks dan Kebencian Merajalela

Polarisasi politik yang tajam pasca-Pemilu Presiden tahun , terus terjadi sampai hari ini. Kubu-kubu yang berseberangan terus-menerus melancarkan serangan. Teks bertendensi kebencian diproduksi, disebarkan, dan membikin kegaduhan di tengah masyarakat. Kecepatan adalah watak saluran daring. Celah ini bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, baik yang menebar informasi destruktif, maupun sebaiknya.

LA GITANILLA RESUMEN PDF

Sabili Online

.

BLAUPUNKT HAMBURG 420 BT PDF

Majalah Tarbawi

.

Related Articles