KLASIFIKASI STATUS EPILEPTIKUS PDF

Ini berhubungan dengan mortalitas yang tinggi dimana pada Kejang penting sebagai suatu tanda adanya gangguan neurologis. Keadaan tersebut merupakan keadaan darurat. Kejang mungkin sederhana, dapat berhenti sendiri dan sedikit memerlukan pengobatan lanjutan, atau merupakan gejala awal dari penyakit berat, atau cenderung menjadi status epileptikus1 Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik, dan atau otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di neuron otak. Status epileptikus adalah kejang yang terjadi lebih dari 30 menit atau kejang berulang lebih dari 30 menit tanpa disertai pemulihan kesadaran.

Author:Zulule Faezilkree
Country:Senegal
Language:English (Spanish)
Genre:Music
Published (Last):11 December 2019
Pages:444
PDF File Size:19.23 Mb
ePub File Size:7.86 Mb
ISBN:177-5-31192-763-8
Downloads:67648
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Nizuru



Ini berhubungan dengan mortalitas yang tinggi dimana pada Kejang penting sebagai suatu tanda adanya gangguan neurologis. Keadaan tersebut merupakan keadaan darurat. Kejang mungkin sederhana, dapat berhenti sendiri dan sedikit memerlukan pengobatan lanjutan, atau merupakan gejala awal dari penyakit berat, atau cenderung menjadi status epileptikus1 Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik, dan atau otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di neuron otak.

Status epileptikus adalah kejang yang terjadi lebih dari 30 menit atau kejang berulang lebih dari 30 menit tanpa disertai pemulihan kesadaran.

Karena diagnosis yang salah atau penggunaan obat yang kurang tepat dapat menyebabkan kejang tidak terkontrol, depresi nafas dan rawat inap yang tidak perlu. Langkah awal dalam menghadapi kejang adalah memastikan apakah gejala saat ini kejang atau bu kan.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa jika seseorang mengalami kejang persisten atau seseorang yang tidak sadar kembali selama lima menit atau lebih harus dipertimbangkan sebagai status epileptikus.

Epidemiologi Status epileptikus merupakan suatu masalah yang umum terjadi dengan angka kejadian kira-kira Sepertiga kasus terjadi pada pasien yang didiagnosa epilepsi, biasanya karena ketidakteraturan dalam memakan obat antikonvulsan. Mortalitas yang berhubungan dengan aktivitas kejang sekitar persen, tetapi mortalitas yang berhubungan dengan penyakit yang menyebabkan status epileptikus kira-kira 10 persen. Pada kejadian tahunan menunjukkan suatu distribusi bimodal dengan puncak pada neonatus, anak-anak dan usia tua.

Pada usia tua Status Epileptikus kebanyakan sekunder karena adanya penyakit serebrovaskuler, disfungsi jantung, dementia. Pada Negara miskin, epilepsy merupakan kejadian yang tak tertangani dan merupakan angka kejadian yang paling tinggi. Etiologi Penyebab status epileptikus sangat bervariasi tiap individu. Penyebab lain status epileptikus adalah hipoglikemia, hipoksemia, trauma, infeksi meningitis, ensefalitis, dan abses otak , alkohol, penyakit metabolik, toksisitas obat, dan tumor.

Klasifikasi Klasifikasi status epileptikus penting untuk penanganan yang tepat, karena penanganan yang efektif tergantung pada tipe dari status epileptikus.

Pada umumnya status epileptikus dikarakteristikkan menurut lokasi awal bangkitan — area tertentu dari korteks Partial onset atau dari kedua hemisfer otak Generalized onset - kategori utama lainnya bergantung pada pengamatan klinis yaitu, apakah konvulsi atau non-konvulsi. Banyak pendekatan klinis diterapkan untuk mengklasifikasikan status epileptikus. Satu versi mengkategorikan status epileptikus berdasarkan status epileptikus umum tonik-klonik, mioklonik, absens, atonik, akinetik dan status epileptikus parsial sederhana atau kompleks.

Versi lain membagi berdasarkan status epileptikus umum overt atau subtle dan status epileptikus non-konvulsi parsial sederhana, parsial kompleks, absens. Versi ketiga dengan pendekatan berbeda berdasarkan tahap kehidupan batas pada periode neonatus, infan dan anak-anak, anak-anak dan dewasa, hanya dewasa.

Klasifikasi status epileptikus adalah sebagai berikut:4 1. Overt generalized convulsive status epilepticus Aktivitas kejang yang berkelanjutan dan intermiten tanpa ada kesadaran penuh. Tonik klonik c. Klonik d. Mioklonik 2. Subtle generalized convulsive status epilepticus diikuti dengan generalized convulsive status epilepticus dengan atau tanpa aktivitas motorik. Simple motor status epilepticus b.

Sensory status epilepticus 4. Nonconvulsive status epilepticus consciousness impaired a. Petit mal status epilepticus b. Complex partial status epilepticus. Patofisiologi Patofisiologi status epileptikus terdiri dari banyak mekanisme dan masih sangat sedikit diketahui. Beberapa mekanisme tersebut adalah adanya kelebihan proses eksitasi atau inhibisi yang inefektif pada neurotransmiter, dan adanya ketidak seimbangan aktivitas reseptor eksitasi atau inhibisi di otak.

Neurotransmiter eksitatorik utama yang berperan dalam kejang adalah glutamat. Faktor — faktor apapun yang dapat meningkatkan aktivitas glutamat akan menyebabkan terjadinya kejang.

Neurotransmiter inhibitorik yang berperan dalam kejang adalah GABA. Antagonis GABA seperti penisilin dan antibiotik dapat menyebabkan terjadinya kejang. Selain itu, kejang yang berkelanjutan akan menyebabkan desensitisasi reseptor GABA sehingga mudah menyebabkan kejang. Selain itu, juga dapat disebabkan oleh GABA dikeluarkan sebagai mekanisme kompensasi terhadap kejang tetapi GABA itu sendiri menyebabkan terjadinya desensitisasi reseptor, dan efek ini diperparah jika terdapat hipertermi, hipoksia, atau hipotensi.

Pada fase pertama, mekanisme kompensasi masih baik dan menimbulkan pelepasan adrenalin dan noradrenalin, meningkatnya aliran darah ke otak, meningkatnya metabolisme, hipertensi, hiperpireksia, hiperventilasi, takikardi, dan asidosis laktat. Pada fase kedua, mekanisme kompensasi telah gagal mempertahankan sehingga autoregulasi cerebral gagal dan menimbulkan odem otak, depresi pernafasan, aritmia jantung, hipotensi, hipoglikemia, hiponatremia, gagal ginjal, rhabdomiolisis, hipertermia, dan DIC.

Secara klinis dan berdasarkan EEG, status epileptikus dibagi menjadi lima fase. Perubahan saraf reversibel pada tahap ini. Setelah 30 menit, ada perubahan ke fase kedua, kemampuan tubuh beradaptasi berkurang dimana tekanan darah , pH dan glukosa serum kembali normal. Kerusakan syaraf irreversibel pada tahap ini. Pada fase ketiga aktivitas kejang berlanjut mengarah pada terjadinya hipertermia suhu meningkat , perburukan pernafasan dan peningkatan kerusakan syaraf yang irreversibel.

Aktivitas kejang yang berlanjut diikuti oleh mioklonus selama tahap keempat, ketika peningkatan pernafasan yang buruk memerlukan mekanisme ventilasi. Keadaan ini diikuti oleh penghentian dari seluruh klinis aktivitas kejang pada tahap kelima, tetapi kehilangan syaraf dan kehilangan otak berlanjut. Mekanisme yang tetap dari kerusakan atau kehilangan syaraf begitu kompleks dan melibatkan penurunan inhibisi aktivitas syaraf melalui reseptor GABA dan meningkatkan pelepasan dari glutamat dan merangsang reseptor glutamat dengan masuknya ion Natrium dan Kalsium dan kerusakan sel yang diperantarai kalsium.

Manifestasi Klinis Pengenalan terhadap status epileptikus penting pada awal stadium untuk mencegah keterlambatan penanganan. Status tonik-klonik umum Generalized Tonic-Clonic merupakan bentuk status epileptikus yang paling sering dijumpai, hasil dari survei ditemukan kira-kira 44 sampai 74 persen, tetapi bentuk yang lain dapat juga terjadi. Status Epileptikus Tonik-Klonik Umum Generalized tonic-clonic Status Epileptikus Ini merupakan bentuk dari Status Epileptikus yang paling sering dihadapi dan potensial dalam mengakibatkan kerusakan.

Kejang didahului dengan tonik-klonik umum atau kejang parsial yang cepat berubah menjadi tonik klonik umum. Pada status tonik-klonik umum, serangan berawal dengan serial kejang tonik-klonik umum tanpa pemulihan kesadaran diantara serangan dan peningkatan frekuensi. Setiap kejang berlangsung dua sampai tiga menit, dengan fase tonik yang melibatkan otot-otot aksial dan pergerakan pernafasan yang terputus-putus.

Hiperglikemia dan peningkatan laktat serum terjadi yang mengakibatkan penurunan pH serum dan asidosis respiratorik dan metabolik. Aktivitas kejang sampai lima kali pada jam pertama pada kasus yang tidak tertangani. Status Epileptikus Klonik-Tonik-Klonik Clonic-Tonic-Clonic Status Epileptikus Adakalanya status epileptikus dijumpai dengan aktivitas klonik umum mendahului fase tonik dan diikuti oleh aktivitas klonik pada periode kedua.

Status Epileptikus Tonik Tonic Status Epileptikus Status epilepsi tonik terjadi pada anak-anak dan remaja dengan kehilangan kesadaran tanpa diikuti fase klonik.

Status Epileptikus Mioklonik Biasanya terlihat pada pasien yang mengalami enselofati. Sentakan mioklonus adalah menyeluruh tetapi sering asimetris dan semakin memburuknya tingkat kesadaran. Tipe dari status epileptikus tidak biasanya pada enselofati anoksia berat dengan prognosa yang buruk, tetapi dapat terjadi pada keadaan toksisitas, metabolik, infeksi atau kondisi degeneratif.

Status Epileptikus Absens Bentuk status epileptikus yang jarang dan biasanya dijumpai pada usia pubertas atau dewasa. Mungkin ada riwayat kejang umum primer atau kejang absens pada masa anak-anak. Respon terhadap status epileptikus Benzodiazepin intravena didapati. Status Epileptikus Non Konvulsif Kondisi ini sulit dibedakan secara klinis dengan status absens atau parsial kompleks, karena gejalanya dapat sama.

Pasien dengan status epileptikus non-konvulsif ditandai dengan stupor atau biasanya koma. Ketika sadar, dijumpai perubahan kepribadian dengan paranoia,delusional, cepat marah, halusinasi, tingkah laku impulsif impulsive behavior , retardasi psikomotor dan pada beberapa kasus dijumpai psikosis. Status Epileptikus Parsial Sederhana a. Kejang mungkin menetap secara unilateral dan kesadaran tidak terganggu. Variasi dari status somatomotorik ditandai dengan adanya afasia yang intermitten atau gangguan berbahasa status afasik.

Status Epileptikus Parsial Kompleks Dapat dianggap sebagai serial dari kejang kompleks parsial dari frekuensi yang cukup untuk mencegah pemulihan diantara episode. Dapat terjadi otomatisme, gangguan berbicara, dan keadaan kebingungan yang berkepanjangan. Pada EEG terlihat aktivitas fokal pada lobus temporalis atau frontalis di satu sisi, tetapi bangkitan epilepsi sering menyeluruh.

Kondisi ini dapat dibedakan dari status absens dengan EEG, tetapi mungkin sulit memisahkan status epileptikus parsial kompleks dan status epileptikus non-konvulsif pada beberapa kasus. Protokol penatalaksanaan status epileptikus pada makalah ini diambil berdasarkan konsensus Epilepsy Foundation of America EFA. Lini pertama dalam penanganan status epileptikus menggunakan Benzodiazepin.

Lorazepam memiliki volume distribusi yang rendah dibandingkan dengan Diazepam dan karenanya memiliki masa kerja yang panjang. Diazepam sangat larut dalam lemak dan akan terdistribusi pada depot lemak tubuh.

Pada 25 menit setelah dosis awal, konsentrasi Diazepam plasma jatuh ke 20 persen dari konsentrasi maksimal. Pemberian antikonvulsan masa kerja lama seharusnya dengan menggunakan Benzodiazepin. Larutan dekstrosa tidak digunakan untuk mengencerkan fenitoin, karena akan terjadi presipitasi yang mengakibatkan terbentuknya mikrokristal.

Status Epileptikus Refrakter Pasien dengan kejang yang rekuren, atau berlanjut selama lebih dari 60 menit.

Kejang berlanjut dengan alasan yang cukup banyak seperti, dosisnya di bawah kadar terapi, hipoglikemia rekuren, atau hipokalsemia persisten. Kesalahan diagnosis kemungkinan lain-tremor, rigor dan serangan psikogenik dapat meniru kejang epileptik. Mortalitas pada status epileptikus refrakter sangat tinggi dibandingkan dengan yang berespon terhadap terapi lini pertama.

Dalam mengatasi status epileptikus refrakter, beberapa ahli menyarankan menggunakan Valproat atau Phenobarbitone secara intravena.

Sementara yang lain akan memberikan medikasi dengan kandungan anestetik seperti Midazolam, Propofol, atau Tiofenton.

Penggunaan ini dimonitor oleg EEG, dan jika tidak ada kativitas kejang, maka dapat ditapering. Dan jika berlanjut akan diulang dengan dosis awal.

KLABBERS AN INTRODUCTION TO INTERNATIONAL INSTITUTIONAL LAW PDF

KLASIFIKASI STATUS EPILEPTIKUS PDF

Brasho Pola Eliminasi Saat serangan dapat terjadi inkontinensia urin dan atau feses e. Apakah pasien letarsi, bingung, sakit kepala, gangguan bicara, hemiplegi sementara, ingatkah pasien apa yang terjadi sebelum selama dan sesudah serangan, adakah perubahan tingkat kesadaran, evaluasi kemungkinan terjadi cidera selama kejang memer, luka gores 3 Sistem Pernafasan: Jenis sfatus ini mempunyai kekhususan tersendiri, yaitu prognosisnya baik. Pada simptomatik terdapat lesi struktural di otak yang mendasari, contohnya oleh karena sekunder dari trauma kepala, infeksi susunan saraf pusat, kelainan sttatus nit, proses desak ruang di otak, gangguan pembuluh darah diotak, toksik alkohol dan obatgangguan dan kelainan neurodegeneratif. Jangan coba memaksa statuus napas atau spatel li-dah masuk pada gigi yang mengatup. Awali untuk pemberian infus M, Duncan J Modifikasi lingkungan untuk memi-nimalkan resiko trauma physical injury pasang pagar pengaman, jauhkan — Knowladge: Potong makanan dalam bentuk kecil agar mudah ditelan — Klien mengatakan cara-cara untuk Airway suctioning mencegah aspirasi 1.

BEHRINGER ULTRAMATCH PRO SRC2496 MANUAL PDF

.

BOXER DERGISI PDF

.

AUTONICS TZN4S PDF

.

Related Articles